Senin, 26 Oktober 2009

bingkisan air mata untuk 1928, ketika para pemuda melupakan sumpahnya

Bukan kami yang mengucap sumpah 81 tahun yang lalu. Tetapi kakek tua renta yang duduk di seberang sana. Maka tidak ada ikatan apa pun bagi kami. Sungguh, Kek, apa yang kakek lakukan 81 tahun silam itu tidak berarti apa-apa bagi kami.

Mungkin bagi kakek, itu adalah sebuah bukti pengorbanan dan rasa cinta taah air bagi kakek. Namun bagi kami, disaat kini dimana cinta tanah air sudah tidak lagi populer dan dianggap sebagai sebuah fanatisme sempit dan tergeser oleh tatanan masyarakat global, apa yang kakek lakukan hanya tinggal coretan kata di buku pelajaran anak-anak yang masih memakai baju putih-merah.

Kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia



Kek, aku ingin bertanya sesuatu. Apa itu tanah air? Kami pun tidak tahu. Sesungguhnya kami adalaha warga negara Indonesia. Kami hanya manusia yang bermukim di wilayah yang kebetulan merupakan bagian dari wilayah kedaulatan NKRI. Bukan berarti kami rela menumpahkan darah demi tempat tinggal kami. Sungguh jika kami mampu, maka kami akan lebih memilih tinggal di negara-negara Eropa sana untuk agar bisa memadu kasih di bayang-bayang keindahan Eiffel, berteriak kebebasan di atas Miss Liberty, atau tersesat di keramaian kota New York.

Hanya saja kami tidak mampu. Takdir mendamparkan kami di negeri yang masyarakatnya banyak di bawah garis kemiskinan atau tepat di garis kemiskinan tersebut. Negeri dengan ketimpangan ekonomi yang sangat besar. Dan sebuah negara besar yang bahkan tidak berkutik meski berulang kali diusik oleh tetangganya.

Jadi buat apa kami menumpahkan darah untuk tanah ini? Sungguh hanya orang-orang bodoh yang rela menumpahkan darah dan berperang hanya demi apa yang mereka sebut harga diri. Heran saja di zaman globalisasi ini masih ada orang yang fanatik sempit hanya untuk apa yang mereka sebut tanah air. Kami hanyalah warga negara, kami bukan penduduk. Tidak ada kewajiban bagi kami untuk membela apa yang disebut tanah air. Bahkan kami tidak mengerti apa itu.

Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia



Sadarlah, Kek. Jenral tersenyum itu tidak lagi berkuasa. Tidak ada lagi istilah menyatukan keragaman. Di masa sekarang ini yang sedang trend adalah upaya mempertahankan keragaman. Tidak perlulah kalian berbohong dengan berkata hanya ada satu bangsa di NKRI ini.

Bahkan secara nyata tampak dari dulu bahwa negara ini didiami oleh bermacam-macam bangsa yang berbeda baik itu pribumi maupun pendatang. Secara ilmiah, tidak ada apa itu yang kalian sebut sebagai Bangsa Indonesia. Selama 32 tahun Orde Baru istilah Bangsa Indonesia hanya digunakan orang-orang Jawa dalam upayanya menjajah daerah-daerah lain. Kini lihatlah mereka mulai sadar bahwa tidak ada Bangsa Indonesia, yang ada adalah Bangsa Jawa yang memaksakan bangsa-bangsa lain di NKRI ini untuk mengikuti mereka.

Jadi, Kek, kenapa kalian berbohong bahwa kalian itu sama? Kenapa kalian membuat sumpah palsu bahwa kalian itu satu? Bukankah pada kenyataannya kalian itu berbeda-beda dan itu tidak dapat dipungkiri lagi. Mungkin hanya satu kesamaan kalian pada waktu itu yaitu: sama-sama dijajah!

Kenapa pula Kakek bangga mengaku bagian dari mereka? Lihatlah mereka adalah sekumpulan orang-orang yang malas bekerja dan korup. Tidak ada yang membanggakan dari mereka. Lihatlah negara yang kaya ini hancur bukan karena orang lain, tetapi karena perilaku mereka sendiri. Lalu apa yang Kakek banggakan dengan mengaku bahwa kalian adalah satu: Bangsa Indonesia?

Kami putra-putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia



Kek, ingatkah adikku yang paling kecil kini bersekolah di Taman Kanak-Kanak? Disana dia tidak lagi diajari bahasa persatuan kalian itu. Ini era globalisasi. Maka kini Bahasa Persatuan kami adalah Bahasa Inggris. Bahasa Inggris lah yang menyatukan kami dengan negara-negara lain. Bahasa Inggris pula lah yang menunjukkan seberapa terpelajar kami di masayarakat kita ini.

Maka jangan heran jika kini orang tua kami lebih suka menyekolahkan anaknya di sekoah yang mengajarkan Bahasa Persatuan kami itu. Jangan heran pula jika kini kami lebih suka menggunakan isstilah asing dalam keseharian kami. Karena bahasa persatuan kami adalah Bahasa Inggris.

Cukuplah Bahasa Persatuan kalian itu dipelajari dalam sekolah-sekolah konvesional kami dari umur 5tahun hingga 18tahun, tidak lebih. Dan jangan berharap kami akan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari kami karena itu sangat memalukan. Mana mungkin di zaman globalisasi ini kami masih menggunakan bahasa konvensional itu??

Lihatlah buku-buku kami, dapatkah Kakek temukan Bahasa Persatuan kakek? Lihatlah selebaran-selebaran kami yang dipenuhi istilah-istilah Bahasa Persatuan kami. Lihatlah forum-forum terpelajar kami yang mulai meninggalkan Bahasa Persatuan kakek karena sudah ketinggalan zaman. Kek,kenapa 81 tahun yang lalu kalian tidak bersumpah saja menjunjung tinggi Bahasa Inggris?

Sekali lagi, Kek, kami sungguh tidak paham dengan kalian. Mengapa kalian membuat sumpah semacam itu 81 tahun yang lalu? Tidak tahukah kakek bahwa Sumpah dan Janji itu sangat sakral dan harus ditepati? Tapi untunglah, Kek, bukan kami yang bersumpah melainkan kalian.

Jumat, 23 Oktober 2009

Keluar istana bak pahlawan?

Pria kecil itu kini tak berada lagi disana. Kini kumis tipisnya tidak akan lagi terlihat di dalam bangunan putih tersebut. Dia keluar dengan senyum dan kembali menikmati kehidupannya sehari-hari. Sungguh seharunya dia bersyukur telah keluar gedung itu dengan senyum. Kini hanya ada satu matahari dalam tempat itu.

Empat puluh tiga tahun yang lalu sang orator itu diusir keluar dari tempat itu dan dikucilkan. Sebelas tahun lalu Jendral yang tersenyum itu juga keluar setelah diusir oleh ribuan orang dijalanan. Tak lama anak jenius itu juga keluar dengan hardikan. Delapan tahun lalu sang Kiai pun keluar hanya berkaos dalam dan celana pendek. Lima tahun yang lalu Srikandi pertama itu pun juga keluar dengan penuh aura perlawanan. Sungguh telah banyak orang keluar dari tempat itu dengan penuh luka coreng.

Namun apa yang terjadi padanya justru berbeda. Pria itu keluar bak pahlawan. Meski dia hanya bulan tetapi dia disamakan seakan matahari. Namanya dielu-elukan oleh semua orang, bahkan oleh mereka yang bukan bagian dari 13 pendukungnya saat Juni.

Hanya pada masa lelaki itu lah beringin raksasa tersebut mampu menjadi sebuah beringin, meski kini itu semua kandas karena beringin tersebut justru lebih suka menjadi tanaman rambat. Tetapi perlu kita akui seumur hidup, baru kali ini beringin itu berani untuk (bahkan hanya sekedar berpikir) tumbuh sendiri tanpa perlu merambat ke pohon lain.

Mungkin lelaki itu tidak tampan, tidak pula anggun dan pandai berkata-kata. Dirinya pun tidak fotogenik sehingga tidak banyak penggemarnya. Tapi sungguh, mereka yang mendukungnya melihat jauh ke dalam diri lelaki Makassar itu. Dirinyalah yang mereka kagumi. Meski mungkin lelaki berpeci itu bukanlah matahari yang seharusnya menyinari kami selama lima tahun ini, namun sinarnya jauh lebih terang daripada matahari itu sendiri. Dua yang bisa kami katakan saat kaki lelaki berlapis sepatu buatan Indonesia itu melangkah keluar: Selamat Jalan dan Terima Kasih. Lelaki itu sungguh lebih besar dari apa yang tampak oleh mata.

Selasa, 20 Oktober 2009

Jenis-jenis Pemimpin

Saya menulis note ini hanya sebagai bahan lelucon, jadi gag usah dipikir terlalu serius..^^
Ini dia beberapa kriteria pemimpin berdasarkan beberapa disiplin ilmu:

Ilmu Ekonomika dan Bisnis


Pemimpin adalah orang yang mampu mengatur dan mengkoordinir pengikutnya agar dapat meraih tujuannya secara efektif dan efisien

Ilmu Komunikasi


Pemimpin adalah orang yang dapat menginspirasi para pengikutnya melalui kata-katanya dan dapat menyampaikan segala yang dia pikirkan kepada pengikutnya dengan jelas

Ilmu Hukum


Pemimpin adalah orang yang dapat menegakkan keadilan dan memberikan persamaan hak kepada seluruh rakyatnya tanpa pandang bulu

Ilmu Psikologi


Pemimpin adalah orang yang dapat memotivasi pengikutnya secara internal agar mereka mau bekerja dengan senang hati tanpa paksaan

Ilmu Budaya


Pemimpin adalah orang yang dapat menjaga dan mempertahankan nilai-nilai luhur dan budaya yang ada pada masyarakat

Ilmu Filsafat


Pemimpin adalah orang yang memiliki pikiran yang luas dan tidak memaksakan hanya ada satu kebenaran saja di dalam masyarakatnya

Ilmu Sosiologi


Pemimpin adalah orang yang memiliki banyak pengikut/pendukung dan memiliki hubungan yang baik dengan mereka

Ilmu Sejarah


Pemimpin adalah orang yang dapat menjalankan apa yang telah diamanatkan oleh para pendahulunya

Ilmu Hubungan Internasional (HI)


Pemimpin adalah orang yang dapat menjaga hubungan baik dengan negara-negara lain dan berperan aktif dalam komunitas global serta mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat Internasional

Ilmu Agama


Pemimpin adalah orang yang dapat menegakkan hukum-hukum agama yang dianutnya dan menuntun pengikutnya kepada kebaikan

ada lagi yang mau menambahkan?^^

Senin, 05 Oktober 2009

ingin rasanya berhenti sejenak dan menengadahkan wajah ke atas..

Mungkin dia lelah berlari hingga ingin berhenti sejenak. Sungguh bukan karena dia tidak mau berlari, sama sekali tidak. Dia senang berlari dan dia menikmati tiap detiknya, tiap langkahnya, tiap detak jantung yang memompa darahnya ke seluruh tubuhnya hingga kuat berlari. Atau bahkan dia sama sekali belum lelah. Hanya saja sebuah kejadian mengingatkanya akan sesuatu yang selama ini telah dilupakannya yang membuatnya ingin berhenti sejenak.

Jangan pernah berkata pernah merasakan sebuah ketenangan yang hakiki sebelum pernah merasakan apa itu ketakutan. Tidak perlu menodongkan senjata dimukanya untuk merasakan sebuah ketakutan. Bahkan bunyi jarum jatuh pun telah cukup untuk membuatnya menggigil ketakutan.

Tapi dia sadar ke mana seharusnya dia beranjak. Dia tahu dimana mendapatkan ketenangan. Dan itulah yang membuatnya sadar apa yang selama ini telah dia lupakan. Bunyi jarumjatuh telah membuatnya mendongak ke atas dan merasakan apa yang telah lama tidak dia rasakan.

Perasaan yang bahkan tidak dia rasakan di hari-hari 29 dimana hujan deras menerpa tubuhnya. Saat dimana harusnya dia menggigil namun dirinya merasa kering. Tapi lebih dari itu, sebuah bunyi jarum jatuh telah membuatnya merasa seakan-akan dibenamkan dalam samudra yang dalam.

Dia menemukan yang selama ini dia cari. Sesuatu yang bahkan tidak dia dapatkan di hari-hari 29 itu. Dan dia temukan dari sebuah bunyi jarum dan sedikit rasa ketakutan. Benar kata orang, penguasa itu bersahabat dengan teror/ketakutan. Karena takut lah yang membuat kita mengingat siapa sebenarnya yang berkuasa dalam permainan ini.

Kini dia ingin berhenti sejenak untuk merasakan apa yang didapatnya dari teror itu lagi. Bukan terornya, tapi apa yang ada dibaliknya. Sesuatu yang menurutnya pantas dibayar dengan berhenti berlari. Karena mungkin dia terlalu asyik berlari sehingga tidak dapat merasakan air yang berada di tubuhnya.

Sabtu, 03 Oktober 2009

relativitas

kami bukan orang buta kawan. Sungguh kami bisa melihat semuanya. Bahkan mungkin justru pandangan kami lebih luas daripada kalian. Jika manusia dianugerahi dua mata di depan, maka kami bisa melihat dari semua mata manusia.

Kami bukan manusia antisosial yang tidak paham nilai dan norma di masyarakat. Bahkan kami sesungguhnya sangat memahaminya. Karena tiap hari kami bergerumul dengan itu semua. Kami juga bukanlah manusia pelangar batas yang menganggap peraturan hanya sebagai sampah penghias kertas ataupun sarana memperoleh nafkah. Kami taati peraturan. Tapi bagi kami tidak ada hitam dan putih.

Kami tidak berbeda dengan kalian? Itu mungkin saja. Tetapi kalian memiliki sesuatu yang kami inginkan. Kalian hanya memiliki dua mata, itu yang kami inginkan dari kalian. Kalian bisa membedakan mana kiri dan mana kanan denngan kedua mata tersebut. Sedangkan kami, mata kami lebih dari 360 derajat. Kiri di mata kami bisa menjadi kanan dari mata kami lainnya. Sehingga janngan heran jika suatu saat nanti kami cebok dengan tangan kanan dan makan dengan tangan kiri. Toh saat ini hal itu juga sudah wajar bahkan dikalangan masyarakat umum yang berpikiran maju.

Kawanku, jika kalian berpikir apa yang kami alami itu menyenangkan, maka pikirkanlah lagi. Memiliki banyak mata bukan hanya berarti bisa melihat dari segala sudut, akan tetapi kau juga bisa melihat duburmu disaat kau sedang makan. Dan itu sungguh bukan sesuatu yang menyenangkan.

Terkadang jika kita tahu bahwa sapi kita akan mati maka kita tidak akan repot-repot mencarikannya rumput. Tetapi darimana kita meminum susu jika semua sapi tidak kita beri rumput karena semua sapi pasti akan mati sedangkan jumlah kuda liar tidak cukup untuk memberi kita semua susu?

Itulah yang terjadi pada kami. Kami menjadi terlalu malas untuk mencari rumput karena tahu sapi pasti akan mati. Padahal banyak keasyikan yang bisa kami dapatkan dari mencari rumput. Keasyikan yang kami anggap itu hanya sebagai sebuah fenomena bodoh yang biasa saja hingga kami enggan menyentuhnya.

Mungkin kalian berpikir bahwa kami orang yang begitu tenang dan tidak mudah tersulut, mungkin hal itu benar. Atau mungkin juga salah. Bukan kami pandai mengendalikan emosi, tapi mungkin lebih tepatnya emosi kami hilang ditelan kumpulan saraf yang berkumpul dalam rongga kepala.

Jika Einstein penemu teori relativitas, maka kami adalah penganutnya. Kami bukan orang-orang yang mempelajari materi, sungguh. Bahkan apa yang kami pelajari sangat jauh dari materi. Melainkan suatu abstrak yang sulit didefinisikan. Tetapi relativitas kami resapi dalam menjalankan setiap detak jantung kami hingga meresap ke neuron-neuron kami.

Dalam hukum relativitas kami, kami berusaha untuk terus melihat bahwa tidak ada hitam dan putih. Mata kami melihat semuanya putih jika bahkan itu hitam. Karena kami yakin hitam dan putih tergantung dari mata mana yang melihatnya.

Saking terbiasa melihat putih, kini kami buta warna. Kami tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah. Semua kami anggap putih dengan teori relativitas. KAmi terlalu yakin bahwa semua warna pastilah memilki unsur putih sehingga bahkan hitam pun kami biarkan saja. Untungnya beberapa dari kami menyadari dan menamainya ssebagai nihil-isme.

Bermain permainan tanpa hadiah mungkin terlihat bodoh bagi kami karena tidak memberikan apa-apa. Tetapi sesungguhnya kami bisa mendapatkan sesuatu dari proses permainan tersebut. Berbeda dengan kalian yang akan langsung bermain tanpa berpikir panjang karena mata kalian hanya dua. Itulah yang kami iri dari kalian.

sunahnya memperbanyak takbir

malam kami berkumpul
obor, lampu, dan tongkat tergenggam
bukan mencari maling
ataupun menggrebek warga
mau menjalankan sunah-Mu?

sunahnya memperbanyak takbir
ah Kau tau sendiri apa kami
gag rame gag asik!

Gag rame gag asik!
pukul saja gendang itu
Gag rame gag asik!
tabuh saja drum itu
Gag rame gag asik!
bunyikan saja klakson dan knalpot
Gag rame gag asik!
teguk saja sebotol arak
Gag rame gag asik!
bikin kerusuhan saja

takbir hilang ditelan masa
drum, peluit, klakson,
kini itu yang kami agungkan
takbiran??

orang kanan di sebelah kanan

tahukah kawan? selama ini kami dikenalkan pada sebuah dunia baru. Dunia dimana tidak ada yang benar maupun salah, yang ada hanyalah orang kanan berada di sebelah kanan (right man on the right place). Mungkiin sebagian orang telah menerimanya sebagai sebuah pemikiran modern yang menonjolkan nilai-nilai humanisme yang agung, tapi bagi sebagian orang yang dianggap kolot pemikiran seperti itu dianggap menafikkan kebenaran yang hakiki.
Bagi kami, kebenaran dan kesalahan tidak ditentukan oleh tindakan ataupun niat yang baik dan buruk, akan tetapi apakah orang orang yang seharusnya berada di kanan tetap pada posisinya atau justru tidak berada di posisinya. Meskipun dia orang kiri, jika berada di tempat ang kiri maka itu tidaklah menjadi sebuah masalah. AKan tetapi jika orang kanan berada di sebelah kiri atau sebaliknya, baru lah itu semua menjadi masalah. Semua kebenaran dipandang sebagai suatu relativitas tergantung keadaan yang berlaku.
Ambillah sebuah contoh kasus dimana seseorang yang gemar menyimpan uang. Di satu sisi kami bisa bilang bahwa dia orang yang pelit akan tetapi bolehlah kami namai juga dia sebagai seseorang yang hemat, betapa relatifnya kah sebuah label baik dan buruk?
Oke contoh lain adalah tentang pembohong. Mugkin bagi sebagian orang pembohong adalah suatu hal yang buruk, tetapi bagi kami tergantung dia berada di posisi mana. Kalau kami boleh bilang, para penulis cerita fiksi adalah mereka para pembohong terhebat. Hanya saja mereka beradadi tempat yang tepat hingga orang-orang tidak mempermasalahkannya. Masihkah berikir kebenaran sebagai sesuatu yang mutlak?
Bagi kami segala perseteruan dan konflik yang ada hanyalah sebuah fenomena biasa dan tidak perlu diributkan. Kami tidak heran tentang pro kontra hukuman mati, bunuh saja sanak saudara mereka yang menolak hukuman mati maka mereka pasti akan berbalik medukung. Itu semua hanyalah konflik kepentingan egois yang dibungkus dengan nuansa nilai-nilai hebat. Begitu pula konflik lain antara mahasiswa dan penguasa, portal, partai, pemerintah, dsb.
Kawanku, maka jangan heran jika kalian melihat kami sebagai orang-orang apatis. Bukan karena kami tidak peduli, tapi karena kami terbiasa untuk menjaga jarak dan mengamati dari jarak yang cukup. Kami tidak mau terlibat dalam segala kebodohan itu baik sebagai pendukung atau penolak. Kalaupun kalian berkata kami apatis, maka kami pun hanya akan tertawa melihat semua yang terjadi dan apa yang kalian katakan. Mungkin kami memang orang yang sesat.